Senin, 23 Maret 2009

Rabu, 11 Maret 2009

Mari Kita Mengenal Lebih Jauh, Siapa Sebenarnya“Radikal Bebas”?

Jika ada pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, hal ini mungkin dapat dibenarkan. Karena sudah menjadi fitrah manusia yang cenderung akan memiliki rasa keterikatan, yang istilah populernya saat ini lebih dikenal dengan istilah “Chemistry”. Entah kenapa disebut demikian, mungkin istilah Chemistry berkaitan dengan hubungan kimia antar atom yang diikat dalam sebuah ligan. Lalu apa hubungannya antara perkenalan kita dengan dengan radikal bebas dan rasa keterikatan kita dengan “Radikal Bebas” ?

Mari kita mulai mengenal lebih jauh mengenai “Radikal Bebas” agar kita bisa sedikit perduli akan arti penting keberadaannya dalam tubuh kita atau setidaknya kita tidak menjadi pembenci radikal bebas yang radikal, menjadi phobia dengan radikal bebas atau sebebas-bebasnya kita mencaci-maki radikal bebas karena image yang telah terbangun dalam benak kita bahwa radikal bebas adalah sebuah momok yang menakutkan dan manjadi pemicu barbagai penyakit berat.

Radikal bebas, diberi yang diberi simbol R* adalah suatu atom, molekul atau senyawa yang dapat berdiri sendiri, mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Adanya satu atau lebih elektron tidak berpasangan menyebabkan radikal bebas (R*) cenderung mencari elektron untuk dijadikan pasangan untuk mencapai duplet atau octet (kondisi stabil) dengan mengambil dari senyawa lain atau ditarik pada medan magnet tertentu. Hal tersebut dapat menyebabkan radikal bebas (R*) reaktif terhadap senyawa yang lain. Radikal bebas (R*) dapat terbentuk dari senyawa non radikal melalui reaksi redoks (menerima atau melepaskan elektron), melalui absorpsi radiasi (ionisasi, UV) atau jika ikatan kovalen dalam suatu senyawa pecah (homolitic fusion) atau karena adanya reaksi Fenton.

Berikut ini adalah cara-cara pembentukan radikal bebas yang banyak dikenal.

1. Reaksi Fenton (Redoks)
Fe2+ + H2O2---->Kompleks perantara Fe3+ + OH* + OH-
Cu+ + H2O2 ---->Cu2+ + OH* + OH-

2. Reaksi Fusi
a. Fusi homolitik
A : B ----->A* + B*
H2O ------>OH* + H*
b. Fusi heterolitik
A : B ----->A**- + B+
H2O ------>OH- + H+

3. Reaksi absorpsi energi
O2 1 elektron O2*- (reduksi)
O2 2 elektron H2O2 (reduksi, dengan penambahan 2 H+, atau protonasi dari O22-)
H2O2 energi 2OH*
OH* adalah radikal bebas hidroksil, suatu radikal yang paling reaktif.

Keberadaan radikal bebas dalam tubuh seringkali dianggap hanya bersifat merugikan semata, namun pendapat ini tidak dapat dibenarkan, karena radikal bebas (R*) juga berperan penting dalam proses-proses biokimiawi yang diperlukan oleh tubuh. Proses-proses itu antara lain seperti reaksi oksidasi suatu zat yang melibatkan sitokrom P450, pengaturan kontraksi otot polos, dan proses fagositosis. Radikal bebas yang memiliki peranan penting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS. Banyak sekali jenis radikal bebas (R*) yang sudah diteliti, seperti radikal oksigen atau superoksid (O2*-), radikal hidroksil (OH*), radikal alkoksil (RO*), radikal peroksil (ROO*) serta radikal bebas derivat H2O2 (peroksida).

Keberadaan radikal bebas dalam tubuh tidak bisa dihindari, karena radikal bebas (R*) dapat bersumber dari internal atau eksternal. Pembentukan radikal bebas (R*) di dalam tubuh sendiri antara lain berasal dari proses transfor elektron di mitokondria (organel sel), oksidasi hemoglobin (Hb), enzim yang menggunakan O2 secara berlebihan, reaksi dismutase, dan reaksi fenton.

Kondisi radikal bebas yang memberikan dampak buruk pada tubuh adalah apabila terjadi kelebihan radikal bebas (R*) atau sering kali disebut stress oksidatif yang tidak diimbangi dengan antioksidan yang ada. Kemungkinan terjadinya stress oksidatif antara lain dikarenakan oleh kelebihan jumlah radikal bebas yang diterima dari luar atau secara eksternal baik sengaja maupun dengan tidak sengaja, seperti polutan(ozon, hidrokarbon, dan nitrogen oksida), rokok, atau obat-obatan (bleomycin. Anthracyclines, methotrexate)

Dari penjelasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya radikal bebas merugikan, karena pada dasarnya radikal bebas diciptakan Tuhan dengan maksud dan tujuan tertentu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Keberadaannya dalam tubuh patut disyukuri sebagai benda yang membantu sistem biokimia tubuh kita, dan sudah selayaknya kita juga menjaga keseimbangan jumlah radikal bebas dengan pola hidup sehat antara lain dengan menjauhi rokok, polutan dan mengkonsumsi asupan makanan yang mengandung antioksidan.

BENCANA OBAT

Sebelum obat diedarkan dipasaran dan dikonsumsi oleh masyarakat luas, obat tersebut harus mengalami serangkaian uji yang meliputi uji Praformulasi, yaitu berupa uji toksisitas akut, sub-akut, kronik, karsinogenik, mutagenik dan uji efek pada organ reproduksi. Setelah obat dinyatakan aman atau memenuhi syarat sebagai obat, maka obat tersebut dibuat formulasi dan dilakukan uji formulasi. Kemudian, setelah semuanya dinyatakan memenuhi syarat, obat masih harus menjalani uji klinik pada manusia yang terdiri dari 4 tahap yang meliputi uji klinik fase I,II,III , dan IV, kemudian obat dapat diberikan izin edar.

Namun demikian, walaupun sebuah obat sebelum beredar telah melalui uji keamanan yang cukup panjang dan ketat, tetapi kenyataanya setelah digunakan secara luas oleh masyarakat, obat masih memiliki peluang memberikan efek toksik yang merugikan atau bahkan kadang-kadang berbahaya bagi manusia. Ini menunjukkan tidak ada uji yang dapat menihilkan efek yang tidak diinginkan, walaupun cara-cara uji pada hewan atau pada manusia selalu mengalami perbaikan atau kemajuan. Jika efek sangat merugikan terjadi maka disebut sebagai “Bencana Obat”. Karena itu tidak menutup kemungkinan obat yang sudah diijinkan dipasarkan akhirnya ditarik lagi dari peredaran. Hal ini semata-mata untuk melindungi masyarakat dari efek yang merugikan.

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus “Bencana Obat” yang pernah terjadi :

No.

Nama Obat

Tahun

Efek yang Terjadi

1.

Arsen-Organik

1920

Timbulnya jaundice (Penyakit Kuning) dan Necrosis Hepatic (Kerusakan Hati) karena zat tersebut seperti yang terdapat pada salvarsan untuk pengobatan sivilis yang diderita oleh tentara saat perang dunia I.

2.

Amidopirin

1933

Terjadinya agranulositosis karena penggunaan zat tersebut sebagai analgetik dan antipiretik yang telah berlangsung selama setengah abad.

3.

Etilen Glikol

1930

Zat tersebut terdapat pada eliksir sulfonamid yang telah menyebabkan kematian sedikitnya pada 76 orang, kebanyakan anak-anak karena gagal ginjal.

4.

Fenasetin

1960

Zat ini pertama kali digunakan tahun 1887 dan efektif sebagai analgetik dan antipiretik, ternyata menyebabkan gagal ginjal kronik ketika dikonsumsi bersama kafein dan fenazon. Kasus ini terjadi pada penduduk Huskvana, Swedia.

5.

Talidomid

1960

Zat ini menjadi penyebab bencana yang sangat terkenal pada dekade 60’an karena efek teratogeniknya (kelainan pada kuping dan tangan) pada janin dari seorang ibu ketika hamil yang mengkonsumsi Talidomid sebagai anti muntah/alergi.

6.

Kliokinol

-

Zat ini menyebabkan SMON (Sub Acute-Myelo-Opticoneuropathy) yang dapat menimbulkan kebutaan di Jepang. Zat ini digunakan/ ditambahkan pada obat diare atau gangguan saluran pencernaan.

7.

Triazolam

1991

Zat ini adalah derivate benzodiazepine yang berfungsi sebagai sedative-hipnotik (penenang) . Zat ini dianggap dapat menimbulkan reaksi eksitasi atau psikotik akut, sehingga obat ini di Inggris ditarik dari peredarannya.

8.

Indometasin lepas lambat

1983

Zat ini menimbulkan Ulcer dan perforasi intestinal.

9.

Zelmetidin

1983

Zat ini menimbulkan efek Neurotoksik ( racun pada syaraf)

10.

Zomepirax

1983

Zat ini adalah obat golongan NSAID(anti inflamasi non steroid) yang menyebabkan alergi serius dan anafilaktik

11.

Fenclofenak

1984

Zat ini adalah obat golonagan NSAID yang dalam penggunaannya dapat menyebabkan rash kulit, gangguan Gastrointestinal (sistem pencernaan), dan karsinogenik (pemicu kanker).

12.

Domperidon Injeksi

1986

Zat ini menimbulkan efek kardiotoksik

13.

Dinoproston

1990

Zat ini menimbulkan efek hipertonus uterin dan foetal distress

14.

Propofol

1992

Zat ini menyebabkan fatal neurologik, toksik pada jantung, ginjal dan hiperlipidemia (kelebihan trigliserida) pada anak.

15.

Ekstrak Germander

1992

Zat ini berasal dari ektrak tanaman Teucrium s. Zat ini dapat memicu terjadinya Hepatitis.

16.

Vaksin MMR

1992

Vaksin ini menyebabkan terjadinya meningitis pada anak-anak oleh komponen vaksin”mumps”/gondong.

Oleh sebab itu, penggunaan obat baik berupa penggunaan tunggal, terlebih dalam penggunaan secara kombinasi, faktor keamanan dan kehati-hatian menjadi mutlak adanya untuk diperhatikan. Dengan tidak menggunakan obat dengan sebagaimana mestinya, bukan tidak mungkin efek merugikan, atau bahkan bahkan membahayakan dapat menimpa anda, anak, istri dan orang-orang yang anda cintai. Maka, demi keamanan dan kenyamanan dalam menggunakan obat, perhatikan dengan seksama seluk-beluk dan cara penggunaan yang rasional obat yang hendak anda konsumsi. Akan sangat baik jika anda menanyakan kepada Apoteker di Apotek tempat anda membeli obat atau menebus resep tentang keamanan obat tersebut bagi diri anda dan keluarga.