Rabu, 11 Maret 2009

Mari Kita Mengenal Lebih Jauh, Siapa Sebenarnya“Radikal Bebas”?

Jika ada pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang”, hal ini mungkin dapat dibenarkan. Karena sudah menjadi fitrah manusia yang cenderung akan memiliki rasa keterikatan, yang istilah populernya saat ini lebih dikenal dengan istilah “Chemistry”. Entah kenapa disebut demikian, mungkin istilah Chemistry berkaitan dengan hubungan kimia antar atom yang diikat dalam sebuah ligan. Lalu apa hubungannya antara perkenalan kita dengan dengan radikal bebas dan rasa keterikatan kita dengan “Radikal Bebas” ?

Mari kita mulai mengenal lebih jauh mengenai “Radikal Bebas” agar kita bisa sedikit perduli akan arti penting keberadaannya dalam tubuh kita atau setidaknya kita tidak menjadi pembenci radikal bebas yang radikal, menjadi phobia dengan radikal bebas atau sebebas-bebasnya kita mencaci-maki radikal bebas karena image yang telah terbangun dalam benak kita bahwa radikal bebas adalah sebuah momok yang menakutkan dan manjadi pemicu barbagai penyakit berat.

Radikal bebas, diberi yang diberi simbol R* adalah suatu atom, molekul atau senyawa yang dapat berdiri sendiri, mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Adanya satu atau lebih elektron tidak berpasangan menyebabkan radikal bebas (R*) cenderung mencari elektron untuk dijadikan pasangan untuk mencapai duplet atau octet (kondisi stabil) dengan mengambil dari senyawa lain atau ditarik pada medan magnet tertentu. Hal tersebut dapat menyebabkan radikal bebas (R*) reaktif terhadap senyawa yang lain. Radikal bebas (R*) dapat terbentuk dari senyawa non radikal melalui reaksi redoks (menerima atau melepaskan elektron), melalui absorpsi radiasi (ionisasi, UV) atau jika ikatan kovalen dalam suatu senyawa pecah (homolitic fusion) atau karena adanya reaksi Fenton.

Berikut ini adalah cara-cara pembentukan radikal bebas yang banyak dikenal.

1. Reaksi Fenton (Redoks)
Fe2+ + H2O2---->Kompleks perantara Fe3+ + OH* + OH-
Cu+ + H2O2 ---->Cu2+ + OH* + OH-

2. Reaksi Fusi
a. Fusi homolitik
A : B ----->A* + B*
H2O ------>OH* + H*
b. Fusi heterolitik
A : B ----->A**- + B+
H2O ------>OH- + H+

3. Reaksi absorpsi energi
O2 1 elektron O2*- (reduksi)
O2 2 elektron H2O2 (reduksi, dengan penambahan 2 H+, atau protonasi dari O22-)
H2O2 energi 2OH*
OH* adalah radikal bebas hidroksil, suatu radikal yang paling reaktif.

Keberadaan radikal bebas dalam tubuh seringkali dianggap hanya bersifat merugikan semata, namun pendapat ini tidak dapat dibenarkan, karena radikal bebas (R*) juga berperan penting dalam proses-proses biokimiawi yang diperlukan oleh tubuh. Proses-proses itu antara lain seperti reaksi oksidasi suatu zat yang melibatkan sitokrom P450, pengaturan kontraksi otot polos, dan proses fagositosis. Radikal bebas yang memiliki peranan penting dalam tubuh adalah radikal derivat dari oksigen yang disebut kelompok oksigen reaktif (reactive oxygen species/ROS. Banyak sekali jenis radikal bebas (R*) yang sudah diteliti, seperti radikal oksigen atau superoksid (O2*-), radikal hidroksil (OH*), radikal alkoksil (RO*), radikal peroksil (ROO*) serta radikal bebas derivat H2O2 (peroksida).

Keberadaan radikal bebas dalam tubuh tidak bisa dihindari, karena radikal bebas (R*) dapat bersumber dari internal atau eksternal. Pembentukan radikal bebas (R*) di dalam tubuh sendiri antara lain berasal dari proses transfor elektron di mitokondria (organel sel), oksidasi hemoglobin (Hb), enzim yang menggunakan O2 secara berlebihan, reaksi dismutase, dan reaksi fenton.

Kondisi radikal bebas yang memberikan dampak buruk pada tubuh adalah apabila terjadi kelebihan radikal bebas (R*) atau sering kali disebut stress oksidatif yang tidak diimbangi dengan antioksidan yang ada. Kemungkinan terjadinya stress oksidatif antara lain dikarenakan oleh kelebihan jumlah radikal bebas yang diterima dari luar atau secara eksternal baik sengaja maupun dengan tidak sengaja, seperti polutan(ozon, hidrokarbon, dan nitrogen oksida), rokok, atau obat-obatan (bleomycin. Anthracyclines, methotrexate)

Dari penjelasan yang telah dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya radikal bebas merugikan, karena pada dasarnya radikal bebas diciptakan Tuhan dengan maksud dan tujuan tertentu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Keberadaannya dalam tubuh patut disyukuri sebagai benda yang membantu sistem biokimia tubuh kita, dan sudah selayaknya kita juga menjaga keseimbangan jumlah radikal bebas dengan pola hidup sehat antara lain dengan menjauhi rokok, polutan dan mengkonsumsi asupan makanan yang mengandung antioksidan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar